Artikel
Workout For Life? Or Likes?

Media sosial saat ini tidak hanya menjadi ruang untuk berbagi cerita, tetapi juga menjadi ruang yang membentuk pola pikir dan gaya hidup generasi muda. Apa yang sedang viral di dunia digital sering kali memengaruhi keputusan sehari-hari, mulai dari cara berpakaian, pilihan hiburan, hingga aktivitas. Tidak heran, belakangan ini tren olahraga di kalangan Generasi Z dan Milenial semakin meningkat, lho.
Fenomena ini tidak terlepas dari pengaruh Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman atau aktivitas yang sedang dilakukan banyak orang. Meski sering dianggap negatif karena dapat menimbulkan tekanan sosial, dalam tren olahraga justru muncul sisi lain yang lebih positif: dorongan untuk ikut bergerak dan hidup lebih aktif. Inilah yang kemudian dapat disebut sebagai “FOMO Positivity”, ketika rasa takut tertinggal justru berubah menjadi motivasi untuk melakukan aktivitas yang lebih sehat. Siapa nih Kampus Mania yang ikut-ikutan olahraga karena konten olahraga lagi rame di media sosial?
Perubahan ini juga terlihat dari cara masyarakat memandang olahraga. Jika dulu lebih sering dianggap sebagai rutinitas pribadi, kini aktivitas tersebut menjadi bagian dari gaya hidup yang dipamerkan di media sosial. Banyak orang mulai berolahraga karena terinspirasi oleh berbagai konten yang mereka temui setiap hari. Tanpa disadari, inspirasi tersebut perlahan menjadi motivasi yang mendorong gaya hidup lebih aktif dan sehat, lho.
Meski demikian, tren olahraga yang viral juga tidak luput dari kritik. Sebagian orang menilai tren ini hanya menjadi ajang pencitraan di dunia digital. Tidak sedikit pengguna media sosial yang sekadar memamerkan pencapaian olahraga mereka. Akibatnya, makna olahraga sebagai upaya menjaga kesehatan berpotensi bergeser menjadi sekadar sarana untuk mendapatkan validasi sosial.
Salah satu contoh yang sempat viral adalah “jasa joki Strava”, Kampus mania pasti pernah dengar, kan? Jasa ini menawarkan layanan untuk melakukan dan merekam aktivitas olahraga, kemudian hasilnya dijual kepada orang lain. Beberapa orang memanfaatkannya untuk memamerkan keaktifan mereka di aplikasi olahraga. Nah, dari fenomena ini menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, tren olahraga hanya dimaknai untuk membangun citra aktif di media sosial.
Terlepas dari sisi tersebut, tren olahraga di masyarakat diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat. Banyak orang kini menjadikan olahraga sebagai rutinitas harian dan bagian dari identitas gaya hidup. Kehadiran komunitas olahraga, acara lari massal, hingga aplikasi kebugaran semakin memperkuat posisi olahraga dalam kehidupan sosial masyarakat.
Meski demikian, Kampus Mania juga harus ingat nih, kalau tren positif ini perlu diimbangi dengan pengetahuan yang memadai. Memahami teknik olahraga yang benar serta mengetahui kapasitas tubuh menjadi penting agar manfaat yang diperoleh dapat optimal dan terhindar dari cedera.
Pada akhirnya, fenomena FOMO tidak selalu harus dipandang negatif, kok. Ketika diarahkan pada aktivitas yang bermanfaat, seperti olahraga, FOMO justru dapat menjadi dorongan untuk membangun gaya hidup yang lebih sehat. Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan tren tersebut sebagai motivasi nyata, bukan sekadar untuk terlihat aktif di media sosial.
Sebagai Gen Z, bagaimana pandangan Kampus Mania dalam memaknai tren olahraga yang sedang viral ini? Olahraga demi hidup sehat? Atau hanya ikut tren media sosial? WAVE: What’s Around the Vibes n Everything Episode 2: “Demam Olahraga di Kalangan Gen Z” akan mengupas habis serba serbi tren olahraga. Dengarkan pada Senin, 9 Maret 2026 pukul 19.00-21.00 WIB only on website 8ehradioitb.com
Written by
Josephine Ellen Grecya
Co-Author
Rahma Aryanti
Co-Author
Rizka Nurshafa
